Suatu malam Andi berkunjung ke rumah Doni. Tujuan Andi sebenarnya cuma satu, yaitu kepingin numpang makan. Berhubung ini sudah akhir bulan, stok makanan sudah sekarat, dompet pun sudah hampir tak bernyawa, ditambah lagi kiriman uang dari kampung yang juga tak kunjung tiba, bahkan sampai detik ini. Hitung-hitung ngirit dana lah…
Benar saja, sesampainya di rumah Doni, ternyata keluarga Doni sedang berkumpul untuk menikmati sajian malam. Rejeki memang tak kemana, demikian di benak Andi, senang.
Tapi tunggu dulu, walau pun niatnya mau numpang makan, tapi kan malu juga kalau terangan-terangan kepingin, gengsi gitu. Masa anak muda ganteng musti ngemis-ngemis minta makan. Yah, namanya juga orang Indonesia dengan budaya ketimuran yang begitu sopan dan santun, pastilah mereka bakal nawarin ajakan makan pada Andi . Begitu pikir Andi.
Sekali lagi Andi benar, metode berburu makanan gratisnya memang nyaris sempurna.
“Nak, Andi makan yuk?”, teriak Ibunya Doni dari dalam. Saat itu Andi sedang duduk di ruang tamu.
“Enggak Tante, terimakasih, masih kenyang”, jawab Andi pura-pura menolak.
Beberapa saat kemudian terdengar kembali teriakan.
“Ndi, ayo makaaann”, terdengar Doni memanggil temannya itu.
“Makasih Don, masih kenyang nich…!”, Jawab Andi sambil senyum-senyum,“Yes!! Berhasil nich… Pokoknya panggilan ke tiga aku langsung makan” Andi berbisik gembira.
Satu menit berlalu…
Lima menit berlalu…
Sepuluh menit berlalu…
Lima belas menit berlalu… Andi benar-benar sudah kelaparan dan tak tahan lagi.
“Loh? Kok udah nggak nawarin makan lagi? Berabe nich!”, Gumam Andi.
Melihat gelagat tak akan ada lagi panggilan dari ruang makan, Andi yang sudah begitu kelaparan bergegas menuju keluarga Doni di meja makan.
“Anu, tadi manggil-manggil saya kenapa ya?”
“Ngajak kamu makan….”
“Oooohhh, saya kira apaaa, boleh juga sich kalau dipaksa”.
Benar saja, sesampainya di rumah Doni, ternyata keluarga Doni sedang berkumpul untuk menikmati sajian malam. Rejeki memang tak kemana, demikian di benak Andi, senang.
Tapi tunggu dulu, walau pun niatnya mau numpang makan, tapi kan malu juga kalau terangan-terangan kepingin, gengsi gitu. Masa anak muda ganteng musti ngemis-ngemis minta makan. Yah, namanya juga orang Indonesia dengan budaya ketimuran yang begitu sopan dan santun, pastilah mereka bakal nawarin ajakan makan pada Andi . Begitu pikir Andi.
Sekali lagi Andi benar, metode berburu makanan gratisnya memang nyaris sempurna.
“Nak, Andi makan yuk?”, teriak Ibunya Doni dari dalam. Saat itu Andi sedang duduk di ruang tamu.
“Enggak Tante, terimakasih, masih kenyang”, jawab Andi pura-pura menolak.
Beberapa saat kemudian terdengar kembali teriakan.
“Ndi, ayo makaaann”, terdengar Doni memanggil temannya itu.
“Makasih Don, masih kenyang nich…!”, Jawab Andi sambil senyum-senyum,“Yes!! Berhasil nich… Pokoknya panggilan ke tiga aku langsung makan” Andi berbisik gembira.
Satu menit berlalu…
Lima menit berlalu…
Sepuluh menit berlalu…
Lima belas menit berlalu… Andi benar-benar sudah kelaparan dan tak tahan lagi.
“Loh? Kok udah nggak nawarin makan lagi? Berabe nich!”, Gumam Andi.
Melihat gelagat tak akan ada lagi panggilan dari ruang makan, Andi yang sudah begitu kelaparan bergegas menuju keluarga Doni di meja makan.
“Anu, tadi manggil-manggil saya kenapa ya?”
“Ngajak kamu makan….”
“Oooohhh, saya kira apaaa, boleh juga sich kalau dipaksa”.
Parnografi Makin Parah Anak Kecanduan ML. Sudah nggak aneh lagi kalau anak jaman sekarang perilakunya banyak yang kebablasan . Contohnya banyak kita jumpai di sekitar kita. Anak-anak seumuran SD sudah berani melakukan sesuatu yang hanya pantas dilakukan oleh orang dewasa. Ya merokoklah, pacaranlah, buka situs xxx, juga nonton film unyil udah biasa mereka lakukan.
Anak tetanggaku juga rupanya tak mau kalah, sebut saja namanya Wawan. Walau masih kelas 5 SD, tapi sudah ketagihan yang namanya udud. Beli di warung pun pakai acara bohong segala, bilangnya sih disuruh bapaknya. Anaknya memang dikenal bandel, apalagi ibunya kurang dalam hal mendidik, sedang bapak tirinya nya jarang pulang. Wawan ini kemana-mana selalu bawa hape, ngakunya sih sudah punya pacar.
Yang bikin aku geleng-geleng kepala adalah ketika suatu kali ngobrol dengannya, dia cerita blak-blakan tentang apa yang pernah dilakukannya selama ini.
Mas Ganteng : “Hapemu kok bagus sih Wan, pasti ada filmnya ya?”
Wawan : “Banyak mas, mau yang apa, yang soft, hard, apa yang keroyokan?”
Mas Ganteng : “Busyet, ada keroyokannya juga? mainnya gimana tuh?”
Wawan : “Masak gak tahu sih mas, yang ceweknya dikit itu lho, sedang cowoknya banyak”
Mas Ganteng : Oh yang itu, tapi filmnya cuma ditonton kan?”
Wawan : “Gak seru mas kalo cuma nonton, ya ditiru lah, kan penasaran, hehe”
Mas Ganteng : “Gak boong nih? Emang sama siapa, coba?”
Wawan : “Ya sama pacarku lah, apalagi kalo siang kan rumahnya sepi”
Mas Ganteng : “Kok berani sih? Pasti kamu paksa ya…”
Wawan : “Pacarku lho yang nawarin, masak rejeki aku tolak sih, hehe”
Mas Ganteng : “Wah pacarmu kok parah sih, emang rasanya gimana?”
Wawan : “Ya enaklah mas, pas dimasukin gak bisa dibayangin deh rasanya. Anget-anget gimana gitu…”
Mas Ganteng : “Tobat-tobat, kalo pacarmu sendiri?”
Wawan : “Ya dia cuma diem aja mas, habis sama-sama enak sih, hehe”
Mas Ganteng : “Aku tahu wan kamu nakal, tapi ada buktinya gak? Siapa tahu kamu cuma ngarang..”
Wawan : “Tenang mas, aku rekam kok. Komplet, videonya ada, fotonya juga ada”
Mas Ganteng : “Lihat dong fotonya, bahaya nih kalau sampai ketahuan ibumu”
Wawan : “Fotoku yang dibawah ini lho mas…..
*#!??@%$&*!!
*#!??@%$&*!!
*#!??@%$&*!!
Anak tetanggaku juga rupanya tak mau kalah, sebut saja namanya Wawan. Walau masih kelas 5 SD, tapi sudah ketagihan yang namanya udud. Beli di warung pun pakai acara bohong segala, bilangnya sih disuruh bapaknya. Anaknya memang dikenal bandel, apalagi ibunya kurang dalam hal mendidik, sedang bapak tirinya nya jarang pulang. Wawan ini kemana-mana selalu bawa hape, ngakunya sih sudah punya pacar.
Yang bikin aku geleng-geleng kepala adalah ketika suatu kali ngobrol dengannya, dia cerita blak-blakan tentang apa yang pernah dilakukannya selama ini.
Mas Ganteng : “Hapemu kok bagus sih Wan, pasti ada filmnya ya?”
Wawan : “Banyak mas, mau yang apa, yang soft, hard, apa yang keroyokan?”
Mas Ganteng : “Busyet, ada keroyokannya juga? mainnya gimana tuh?”
Wawan : “Masak gak tahu sih mas, yang ceweknya dikit itu lho, sedang cowoknya banyak”
Mas Ganteng : Oh yang itu, tapi filmnya cuma ditonton kan?”
Wawan : “Gak seru mas kalo cuma nonton, ya ditiru lah, kan penasaran, hehe”
Mas Ganteng : “Gak boong nih? Emang sama siapa, coba?”
Wawan : “Ya sama pacarku lah, apalagi kalo siang kan rumahnya sepi”
Mas Ganteng : “Kok berani sih? Pasti kamu paksa ya…”
Wawan : “Pacarku lho yang nawarin, masak rejeki aku tolak sih, hehe”
Mas Ganteng : “Wah pacarmu kok parah sih, emang rasanya gimana?”
Wawan : “Ya enaklah mas, pas dimasukin gak bisa dibayangin deh rasanya. Anget-anget gimana gitu…”
Mas Ganteng : “Tobat-tobat, kalo pacarmu sendiri?”
Wawan : “Ya dia cuma diem aja mas, habis sama-sama enak sih, hehe”
Mas Ganteng : “Aku tahu wan kamu nakal, tapi ada buktinya gak? Siapa tahu kamu cuma ngarang..”
Wawan : “Tenang mas, aku rekam kok. Komplet, videonya ada, fotonya juga ada”
Mas Ganteng : “Lihat dong fotonya, bahaya nih kalau sampai ketahuan ibumu”
Wawan : “Fotoku yang dibawah ini lho mas…..
*#!??@%$&*!!
*#!??@%$&*!!
*#!??@%$&*!!
Perjalanan kali ini menuju kota Kayong Utara (Sukadana), pengalaman paling berharga ini ditempuh atas dasar akan mengadakan diskusi menuju rumah ide. Rumah ide merupakan forum yang dibentuk kawan-kawan palung yakni Bang Titok, dkk. Dalam perjalanan, senda gurau canda dan tawa kita yang menuju kesana tidak tertinggal hingga membuat perjalanan ini mengasikan dan membuat kita tidak sadar ternyata kita sudah sampai tempat tujuan.
Sebut saja Aleksander Mering, orang yang paling punya kelakar dalam mobil yang kita tumpangi tersebut. Begini, ada cerita seorang orang pedalaman pergi ke kota Jakarta. Nginap di hotel berbintang, pada saat mau buang air besar dia bingung untuk mencari tempat pembuangannya. Masuk ke kamar yang satunya wangi, jadi dan semua serba tertata rapi. Sehingga, oleh karena tidak tahan lagi dia mengambil kaos kakinya dan buang air disitu.
Di bukanya jendela kamar hotel tersebut, diputar-putarnya kaos kaki yang berisi tai tadi dan dibuangnya jauh-jauh. Dia pun merasa lega dan kemudian berbaring tidur, namun pada saat berbaring dillihatnya tai tadi yang seharusnya sudah terbuang melingkar di langit-langit hotel tersebut. Dia pun jadi panik, dipanggilnya klinik servis untuk membersihkan kotoran tersebut.
Jang, sapanya!!! Jang itu sapaan untuk laki-laki. Kalau kamu dapat membersihkan kotoran ini kamu saya kasi uang Rp. 50.000,-. Coba Bapak praktekan bagaimana cara bapak melakukan hajat tadi, kok bisa sampai berhamburan sampai ke dek, jawab laki-laki klinik servis tersebut. Bapak akan saya kasi uang Rp. 200.000 malah.
Selanjutnya, ada seorang Bapak Pastor dan seorang Bapak Haji yang bertetangga. Pada suatu hari, pastor tersebut ingin turne ketempat umatnya. Dia bermaksud meminjam kendaraan bermotor miliknya pak Haji. Pak, saya boleeh meminjam motornya Pak Haji, saya mau turne ke umat saya. Oh ya, boleh saja Pak! Kemudian, turne dilakukan dan kendaraan bermotor milik Pak Haji meluncur menuju tempat turne.
Pada sore hari, pak haji pergi jalan-jalan dan melintas di tempat pencucian motor. Ternyata sekali dilihatnya Pastor tersebut lagi mencuci motor miliknya Pak Haji. Lalu, tutu Pak Haji! Waduh pastor ini minjam motor saya dimandikannya, masuk Katoliklah motor saya tu. Lalu, Pak Haji pun pulang kerumah. Bebererapa saat sampai dirumah, Pastor tersebutpun datanglah mengantarkan motornya. Ini pak Haji, motornya saya kembalikan, terimakasih atas pinjamannya!!! Dengan muka agak berkerut, diterimanya kunci motor tersebut.
Sepulangnya Pastor tersebut, langsung diambilnya gergaji besi milik Pak Haji. Dan, langsung dipotongnya knalpot motor tersebut. Aku sunat kau, biar kau masuk islam lagi. Itulah beberapa humor yang cukup menggelitik perut di perjalanan menuju kota Kayong Utara tersebut.
Setibanya di Kayong Utara, dengan menikmati hidangan kelapa muda di tepi pantai pulau datuk, angin yang sepoi-sepoi membuat selera semakin bertambah. Diskusipun digelar, dengan membicarakan penataan ruang wilayah untuk daerah Kayong Utara mulai di bahas. Menarik, dengan tata ruang yang menjadi planing adalah pembangunan Hutan Desa diantaranya Desa Sungai Sepeti dan Desa Sungai Paduan. Kayong Utara ini memang merupakan Kabupaten baru dan terhitung masih muda, hebatnya disana pemda dan instansi terkait sangat mendukung dan terbuka bagaimana soal tata ruang wilayah yang baik di daerah tersebut. Memang, dalam hal apapun untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan sangat perlu transparansi dan atau keterbukaan agar terciptanya penataan yang lebih baik.
Sebut saja Aleksander Mering, orang yang paling punya kelakar dalam mobil yang kita tumpangi tersebut. Begini, ada cerita seorang orang pedalaman pergi ke kota Jakarta. Nginap di hotel berbintang, pada saat mau buang air besar dia bingung untuk mencari tempat pembuangannya. Masuk ke kamar yang satunya wangi, jadi dan semua serba tertata rapi. Sehingga, oleh karena tidak tahan lagi dia mengambil kaos kakinya dan buang air disitu.
Di bukanya jendela kamar hotel tersebut, diputar-putarnya kaos kaki yang berisi tai tadi dan dibuangnya jauh-jauh. Dia pun merasa lega dan kemudian berbaring tidur, namun pada saat berbaring dillihatnya tai tadi yang seharusnya sudah terbuang melingkar di langit-langit hotel tersebut. Dia pun jadi panik, dipanggilnya klinik servis untuk membersihkan kotoran tersebut.
Jang, sapanya!!! Jang itu sapaan untuk laki-laki. Kalau kamu dapat membersihkan kotoran ini kamu saya kasi uang Rp. 50.000,-. Coba Bapak praktekan bagaimana cara bapak melakukan hajat tadi, kok bisa sampai berhamburan sampai ke dek, jawab laki-laki klinik servis tersebut. Bapak akan saya kasi uang Rp. 200.000 malah.
Selanjutnya, ada seorang Bapak Pastor dan seorang Bapak Haji yang bertetangga. Pada suatu hari, pastor tersebut ingin turne ketempat umatnya. Dia bermaksud meminjam kendaraan bermotor miliknya pak Haji. Pak, saya boleeh meminjam motornya Pak Haji, saya mau turne ke umat saya. Oh ya, boleh saja Pak! Kemudian, turne dilakukan dan kendaraan bermotor milik Pak Haji meluncur menuju tempat turne.
Pada sore hari, pak haji pergi jalan-jalan dan melintas di tempat pencucian motor. Ternyata sekali dilihatnya Pastor tersebut lagi mencuci motor miliknya Pak Haji. Lalu, tutu Pak Haji! Waduh pastor ini minjam motor saya dimandikannya, masuk Katoliklah motor saya tu. Lalu, Pak Haji pun pulang kerumah. Bebererapa saat sampai dirumah, Pastor tersebutpun datanglah mengantarkan motornya. Ini pak Haji, motornya saya kembalikan, terimakasih atas pinjamannya!!! Dengan muka agak berkerut, diterimanya kunci motor tersebut.
Sepulangnya Pastor tersebut, langsung diambilnya gergaji besi milik Pak Haji. Dan, langsung dipotongnya knalpot motor tersebut. Aku sunat kau, biar kau masuk islam lagi. Itulah beberapa humor yang cukup menggelitik perut di perjalanan menuju kota Kayong Utara tersebut.
Setibanya di Kayong Utara, dengan menikmati hidangan kelapa muda di tepi pantai pulau datuk, angin yang sepoi-sepoi membuat selera semakin bertambah. Diskusipun digelar, dengan membicarakan penataan ruang wilayah untuk daerah Kayong Utara mulai di bahas. Menarik, dengan tata ruang yang menjadi planing adalah pembangunan Hutan Desa diantaranya Desa Sungai Sepeti dan Desa Sungai Paduan. Kayong Utara ini memang merupakan Kabupaten baru dan terhitung masih muda, hebatnya disana pemda dan instansi terkait sangat mendukung dan terbuka bagaimana soal tata ruang wilayah yang baik di daerah tersebut. Memang, dalam hal apapun untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan sangat perlu transparansi dan atau keterbukaan agar terciptanya penataan yang lebih baik.
Sebagai seorang pecandu sepak bola, Karmidun tak pernah absen dalam hal tonton menonton jalannya pertandingan sepak bola ditelevisi. Kadangkala ia bela-belain begadang sampai larut malam hanya karena nonton bola bersama teman-temannya. Karena Karmidun lebih suka nonton bola rame-rame, maka tak jarang ia mengundang teman-temannya guna nonton bola dirumahnya sampai-sampai ia merelakan setoples gula dan kopinya berikut cemilan-cemilan ringan. Menurut karmidun, nonton bola sendirian itu nggak ada serunya acan-acan, ekspresi dirasa garing manakala jagoannya membobol gawang lawan. Sedangkan kalau rame-rame, kepuasan itu rasanya sangat-sangat tak tertandingi.
Namun, rasa kecanduan akan sepak bola rupanya harus ia tanggalkan dan ia kikis ketika ia berumah tangga dengan karmini, seorang gadis pujaannya. Apa sebab? Karmini lebih suka nonton sinetron ketimbang bola, apalagi setiap ada cara pertandingan bola, Karmini sudah pasang mimik mengkerut dan bibir mengerucut duluan yang membuat Karmidun tak enak hati sehingga Karmidun dengan terpaksa dan teramat berat hati menemani karmini nonton Sinetron. Biarpun begitu, rasa kecanduan itu ternyata sulit juga untuk dihapus begitu saja. Mata boleh nonton Sinetron, tetapi hati dan kuping diam-diam mendengarkan jalannya petandingan di rumah tetangganya yang kebetulan volumenya sengaja dikencengin sejadi-jadinya. Maka ketika terdengar ada tetangganya meneriakkan gol kemenangan, secara reflek Karmidun ikut berteriak juga padahal yang ada di depan mata Karmidun itu sinetron kesukaan Karmini. Tentu saja karmini ngedumel dan ngomel-ngomel tak karuan lalu mematikan tivinya dan segera tidur membelakangi Karmidun. Melihat istrinya begitu, Karmidun jadi galau, serba salah nggak ketulungan dan ciut hati karena bakalan nggak dapat jatah selama seminggu seperti yang pernah diwanti-wanti Karmini, istrinya.
“Mini tolonglah, sekali saja ya” rayu karmidun
“Sudahlah kang nggak ada sekali sekalian, pokoknya itu ya itu, mini nggak suka situ nonton bola” bentak karmini
“memangnya kenapa sih kalau aku nonton bola?”
“masih nanya? Kalu situ nonton bola alamat gula dan kopi bakal cepat habis, terus situ pasti bangun kesiangan, ujung-ujungnya nggak narik becak, gimana mau dapet duit!!!”
“ya sudah min, aku janji nggak bakal ngundang temen-temen deh terus nggak ngopi lagi kalau pas nonton bola, terus aku akan bangun pagi-pagi langsung narik becak, gimana”
“alaaaaaaah ..sudahlah kang, sekarang situ pilih mana, nonton bola apa main bola?, kalo nonton bola sekali situ nggak bakalan saya kasih main bola sebulan, dua kali dua bulan, apa mau?
“Waduh min, kalau gitu sih aku pilih main bola dong, tapi seminggu main bolanya tiga kali ya”
“idih … mau-maunya, tapi awas ya pegang janjinya”
Dan mulai pada hari itu juga, sepertinya Karmidun benar-benar harus menanggalkan rasa kecanduannya pada bola. “Ah, lebih enak main bola daripada nonton bola” pikirnya matang-matang sambil medekap karmini dari belakang guna persiapan “Main Bola” untuk pertandingan di Minggu pertama.
Namun, rasa kecanduan akan sepak bola rupanya harus ia tanggalkan dan ia kikis ketika ia berumah tangga dengan karmini, seorang gadis pujaannya. Apa sebab? Karmini lebih suka nonton sinetron ketimbang bola, apalagi setiap ada cara pertandingan bola, Karmini sudah pasang mimik mengkerut dan bibir mengerucut duluan yang membuat Karmidun tak enak hati sehingga Karmidun dengan terpaksa dan teramat berat hati menemani karmini nonton Sinetron. Biarpun begitu, rasa kecanduan itu ternyata sulit juga untuk dihapus begitu saja. Mata boleh nonton Sinetron, tetapi hati dan kuping diam-diam mendengarkan jalannya petandingan di rumah tetangganya yang kebetulan volumenya sengaja dikencengin sejadi-jadinya. Maka ketika terdengar ada tetangganya meneriakkan gol kemenangan, secara reflek Karmidun ikut berteriak juga padahal yang ada di depan mata Karmidun itu sinetron kesukaan Karmini. Tentu saja karmini ngedumel dan ngomel-ngomel tak karuan lalu mematikan tivinya dan segera tidur membelakangi Karmidun. Melihat istrinya begitu, Karmidun jadi galau, serba salah nggak ketulungan dan ciut hati karena bakalan nggak dapat jatah selama seminggu seperti yang pernah diwanti-wanti Karmini, istrinya.
“Mini tolonglah, sekali saja ya” rayu karmidun
“Sudahlah kang nggak ada sekali sekalian, pokoknya itu ya itu, mini nggak suka situ nonton bola” bentak karmini
“memangnya kenapa sih kalau aku nonton bola?”
“masih nanya? Kalu situ nonton bola alamat gula dan kopi bakal cepat habis, terus situ pasti bangun kesiangan, ujung-ujungnya nggak narik becak, gimana mau dapet duit!!!”
“ya sudah min, aku janji nggak bakal ngundang temen-temen deh terus nggak ngopi lagi kalau pas nonton bola, terus aku akan bangun pagi-pagi langsung narik becak, gimana”
“alaaaaaaah ..sudahlah kang, sekarang situ pilih mana, nonton bola apa main bola?, kalo nonton bola sekali situ nggak bakalan saya kasih main bola sebulan, dua kali dua bulan, apa mau?
“Waduh min, kalau gitu sih aku pilih main bola dong, tapi seminggu main bolanya tiga kali ya”
“idih … mau-maunya, tapi awas ya pegang janjinya”
Dan mulai pada hari itu juga, sepertinya Karmidun benar-benar harus menanggalkan rasa kecanduannya pada bola. “Ah, lebih enak main bola daripada nonton bola” pikirnya matang-matang sambil medekap karmini dari belakang guna persiapan “Main Bola” untuk pertandingan di Minggu pertama.
Sebelum Ibu Guru memulai jam pelajaran, beliau tidak lupa untuk memeriksa buku PR murid-muridnya. Dimas, Badu dan Badrun ternyata tidak mengerjakan PR karena kemaren malam mereka keluyuran, agar meyakinkan Ibu Guru mereka pun membuat suatu alasan.
Ibu Guru : Dimas, kenapa kamu tidak mengerjakan PR?
Dimas : Kemaren malam mati lampu Bu. Jadi tidak bisa menulis.
Ibu Guru : Hoooo, kalau Badu kenapa tidak mengerjakan PR?
Badu : Sama Bu, dirumah Badu juga mati lampu.
Ibu Guru : Iyaaaa, yaaaa. Kalau Badrun kenapa tidak mengerjakan PR?
Badrun : Dirumah Badrun juga mati lampu Bu.
Ibu Guru : Oke kalau begitu, agar kalian dapat nilai, pas jam istirahat kalian datang ke ruangan Ibu, agar nanti Ibu kasih ujian.
Dimas, Badu, Badrun : Siap Bu….
Jam istirahat pun tiba, mereka pun langsung menemui Ibu Guru.
Ibu Guru : Bagus kalian sudah datang. Ibu akan mengadakan ujian untuk kalian bertiga. Ujiannya hanya satu soal saja. Dan kalian harus duduk saling membelakangi.
Setelah Ibu Guru mengatur posisi duduk mereka, Ibu Guru pun menyerahkan selembar kertas buat mereka bertiga. Wajah mereka tampak senang dan tenang karena hanya mengerjakan satu soal saja. Namun, begitu mereka membaca soalnya, wajah mereka langsung berubah menjadi tegang, dahi mereka mulai berkerut dan mereka mulai keringat dingin. Bagaimana tidak, soal yang diberikan Ibu Guru telah menjebak mereka.
“Dari jam berapa ke jam berapakah lampu itu mati?”
Ibu Guru : Dimas, kenapa kamu tidak mengerjakan PR?
Dimas : Kemaren malam mati lampu Bu. Jadi tidak bisa menulis.
Ibu Guru : Hoooo, kalau Badu kenapa tidak mengerjakan PR?
Badu : Sama Bu, dirumah Badu juga mati lampu.
Ibu Guru : Iyaaaa, yaaaa. Kalau Badrun kenapa tidak mengerjakan PR?
Badrun : Dirumah Badrun juga mati lampu Bu.
Ibu Guru : Oke kalau begitu, agar kalian dapat nilai, pas jam istirahat kalian datang ke ruangan Ibu, agar nanti Ibu kasih ujian.
Dimas, Badu, Badrun : Siap Bu….
Jam istirahat pun tiba, mereka pun langsung menemui Ibu Guru.
Ibu Guru : Bagus kalian sudah datang. Ibu akan mengadakan ujian untuk kalian bertiga. Ujiannya hanya satu soal saja. Dan kalian harus duduk saling membelakangi.
Setelah Ibu Guru mengatur posisi duduk mereka, Ibu Guru pun menyerahkan selembar kertas buat mereka bertiga. Wajah mereka tampak senang dan tenang karena hanya mengerjakan satu soal saja. Namun, begitu mereka membaca soalnya, wajah mereka langsung berubah menjadi tegang, dahi mereka mulai berkerut dan mereka mulai keringat dingin. Bagaimana tidak, soal yang diberikan Ibu Guru telah menjebak mereka.
“Dari jam berapa ke jam berapakah lampu itu mati?”





